PKL Jam Gadang Direlokasi ke Pasar Ateh

banner 468x60

*PKL Jam Gadang Dipindah ke Pasa Ateh: Penertiban Tertib, Tapi Tantangan Kenyamanan Pedagang Masih Ada*

*BUKITTINGGI* – Pemerintah Kota Bukittinggi memulai penertiban Pedagang Kaki Lima di kawasan Jam Gadang pada Kamis 21 Mei 2026. Puluhan PKL dipindahkan secara bertahap ke dalam Pasa Ateh oleh Satpol PP dan tim SK4. Proses berjalan lancar tanpa penolakan berarti.

banner 336x280

Langkah ini bagian dari penerapan Perda Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat. Aturan melarang pemanfaatan fasilitas umum untuk berjualan, terutama di area ikon wisata seperti Jam Gadang.

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menyebut penataan bukan sekadar pengusiran. Pemko menyiapkan lapak di Pasa Ateh melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian agar pedagang tetap bisa berjualan di lokasi yang tertata.

“Kita sudah atur semua. Pemerintah sudah siapkan tempat di dalam Pasa Ateh ini. Intinya semua berkeadilan. Kita atur semua, supaya tertata dengan baik dan tercipta kenyamanan,” ujar Ramlan.

Proses relokasi dibantu langsung oleh petugas yang mengangkut barang dagangan. Pendekatan humanis disebut menjadi kunci sehingga pedagang kooperatif mengikuti arahan.

Penertiban ini menjawab masalah klasik kota wisata: ruang publik yang sesak oleh lapak PKL. Dengan memusatkan perdagangan di Pasa Ateh, Pemko ingin mengembalikan fungsi Jam Gadang sebagai ruang publik dan destinasi wisata yang bersih, tertib, dan nyaman.

Dari sisi tata kota, langkah ini logis. Jam Gadang adalah wajah Bukittinggi yang tiap hari dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Lapak yang tidak tertata mengganggu sirkulasi pejalan kaki dan mengurangi nilai estetika. Memusatkan PKL juga memudahkan wisatawan mencari barang karena semua ada di satu titik.

Namun, tantangan ada pada aspek ekonomi pedagang. Pasa Ateh sudah lama menjadi pusat perdagangan, tapi daya tariknya tidak sebesar area luar Jam Gadang. Pedagang khawatir kehilangan pembeli spontan yang biasa mampir saat lewat. Pemko menyatakan akan menggratiskan lapak di tahap awal, tapi keberlanjutan setelah masa gratis berakhir perlu dipantau.

Pendekatan humanis yang dipakai Satpol PP patut diapresiasi. Tidak ada bentrokan, pedagang ikut memindahkan dagangan sendiri. Ini kontras dengan penertiban di beberapa daerah lain yang sering berujung gesekan.

Kuncinya sekarang ada pada konsistensi pemerintah. Jika Pasa Ateh benar-benar ditata nyaman, diberi aksesibilitas, promosi, dan kebersihan, peluang PKL bertahan bahkan berkembang terbuka lebar. Sebaliknya, jika hanya dipindah tanpa pembenahan lanjutan, pedagang bisa kembali berjualan di luar karena alasan ekonomi.

Penataan Jam Gadang juga berdekatan dengan agenda besar Bukittinggi yakni peringatan 100 tahun Jam Gadang dan IMLF-4 pada Juni 2026 yang mendatangkan tamu dari 38 negara. Citra kota yang tertib dan ramah wisatawan jadi modal penting.

Pemko berharap seluruh masyarakat dan pelaku usaha mendukung penataan ini. Keberhasilan program akan diukur bukan hanya dari kosongnya trotoar Jam Gadang, tapi dari apakah pedagang yang dipindah tetap bisa hidup layak di tempat baru.

banner 336x280

Komentar