
Event bergengsi ini diikuti oleh 80 ekor kuda terbaik dari berbagai daerah di Sumatera Barat, Para peserta memperebutkan total hadiah tabanas mencapai Rp300 juta.
Pembukaan ajang Wisata Derby 2026 ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal. Prosesi sakral pun terlihat saat niniak mamak menyerahkan bendera gelanggang kepada panitia, sebuah simbol mandat dan kearifan lokal untuk memulai perlombaan.
Wali Kota Bukittinggi, H.M. Ramlan Nurmatias, SH Datuak Nan Basa, menegaskan bahwa pacu kuda kini telah bertransformasi menjadi industri olahraga (sport industry)
”Pacu kuda adalah cabang olahraga yang sangat diminati. Saat ini, ia bukan sekadar kompetisi, melainkan atraksi wisata budaya yang ikonik. Bahkan, kita bisa melihat langsung wisatawan mancanegara turut hadir menyaksikan di tribun,” ujar Ramlan.
Kejuaraan tahun ini menyuguhkan persaingan sengit dalam 19 putaran dari berbagai kelas, di antaranya Draf Bogie Tradisional, menampilkan kekhasan kereta kuda lokal, Kelas Derby: Ajang utama yang paling dinantikan penonton.
Kehadiran peserta dari luar daerah memperkokoh posisi Bukik Ambacang sebagai agenda regional yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar melalui sektor penginapan, kuliner, dan transportasi.
Pemerintah Kota Bukittinggi berkomitmen menjadikan pacu kuda sebagai agenda rutin yang terukur. Wali Kota Ramlan memaparkan rencana strategis untuk menjaga kontinuitas event tanpa mengganggu kalender pacuan di daerah lain, rencana ini untuk Memberikan ruang bagi pemilik dan pelatih kuda untuk mempersiapkan performa hewan pacunya secara maksimal.
”Kami akan mengusulkan seri Triple Crown dengan tiga jarak berbeda: 1.400, 1.500, hingga 1.600 meter. Ini dirancang untuk menguji ketangguhan kuda secara konsisten dan menciptakan standar kompetisi yang lebih profesional,” jelas Ramlan.
Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur dan berstandar nasional, Pacu Kuda Bukik Ambacang diharapkan terus menjadi pilar utama sport tourism di Sumatera Barat yang mendunia.













Komentar