Ikhlaslah Agak Sekali Saja

banner 468x60

Saya ingat sebuah kisah hikmah yang diceritakan seorang Buya di kampung saat masih anak-anak dulu. Buya yang selalu menyampaikan kaji dengan cerita atau kisah-kisah di zaman nabi dan rasul, serta sahabat-sahabatnya. Bila Buya ini yang ceramah—entah itu sebagai khatib jumat, penceramah saat hari-hari tertentu, apalagi penceramah ramadan—kami sangat senang dan rajin ke masjid. Bahkan, ke masjid kampung sebelah pun kami turut, kalau beliau yang ceramah. Karena kami senang mendengar cerita-ceritanya yang penuh hikmah. Doa untuk beliau, semoga kaji yang disampaikannya dihisab sebagai ilmu yang bermanfaat. Aamiin…

Suatu ketika, Buya kami ini bercerita tentang seorang tukang roti dan seorang miskin. Di Kota Basrah, ada seorang tukang roti yang dermawan. Ia selalu memberi roti kepada orang-orang miskin dan musafir yang datang atau di lewat di depan tokonya. Di kalangan orang miskin dan musafir, ia menjadi buah bibir dan sering disebut-sebut kemurahan hatinya yang selalu berbagi.

banner 336x280

Syahdan, ada seorang miskin yang tiap hari datang kepada tukang roti tersebut untuk meminta roti. Tukang roti selalu memberinya, kadang lebih dari yang lain. Bahkan, ia selalu ditunggu tukang roti untuk mengambil roti yang disediakan untuknya. Begitu eratnya hubungan antara tukang roti dan orang miskin yang satu ini.

Begitu juga si orang miskin ini, sangat senang berkawan dengan tukang roti. Ia selalu memuja-muja tukang roti ini di hadapan orang lain, sebagai orang baik dan suka memberi.

“Tak ada di Kota Basrah ini yang sebaik tukang roti ini.” Begitu disampaikannya kepada orang-orang.

Suatu hari, orang miskin ini tidak mendapat roti jatahnya. Saat itu, ada orang yang sangat membutuhkan roti datang kepadanya. Orang itu kelaparan dan dalam perjalanan pula. Maka diberikanlah beberapa potong roti kepada orang itu, termasuk untuk bekal di perjalanan nanti. Sehingga persediaan roti habis.

Kemudian, datanglah orang miskin yang biasa diberi roti ini. Tukang roti menjelaskan, tidak ada roti hari ini karena tadi ada orang yang kelaparan dan dalam perjalanan datang kepadanya. Ia telah memberikan roti-roti tersebut kepada orang itu untuk makan dan bekal di perjalanannya.

Mendengar itu, orang miskin ini langsung marah dan mengumpat. Ia merasa haknya telah diberikan kepada orang lain oleh tukang roti itu. Pulanglah orang miskin itu. Sepanjang jalan ia mengata-ngatai tukang roti. Termasuk, mengata-ngatai musafir kelaparan yang dianggap telah merampas roti jatahnya.

Dari kisah yang diceritakan Buya kami ini, jangan pernah merasa yang kita terima setiap saat itu selalu hak atau jatah kita. Bila tidak “mendapat” lalu mengata-ngatai orang lain. Agak sekali, berusahalah untuk ikhlas. Sekalipun itu jatah kita, mungkin saja saat itu ada orang yang lebih membutuhkan, sehingga sang pemberi mengalihkannya sekali ini untuk orang itu. Jangan pula kita mengutuk orang itu atau mengata-ngatai si pemberi.

Memang, ikhlas itu tidak semudah menyebutnya. Namun, bukan berarti tidak bisa dicapai. Setidaknya, berpikir baik—kalau hari ini kita tidak “mendapat” atau tidak lagi menjabat, atau belum diberi yang kita inginkan—mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan dari kita. Atau semati angin, mungkin Allah ingin menguji kita melalui orang lain atau menguji orang lain melalui jatah kita. Barangkali, Itu serendah kaji untuk bisa menerima dengan ikhlas.

Setiap pemberian Allah SWT itu terdapat selaksa lebih rahasia. Baik itu, berupa makan dan minum, harta kekayaan, jabatan/kekuasaan, keturunan, dan seterusnya. Untuk itu, jangan pernah merasa yang paling berhak menerima, sehingga kita bisa melihat sesuatu dengan jiwa yang lapang dan tenang.

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 43)

Mudah-mudahan, kita tidak menjadi atau bertemu orang miskin dalam cerita tukang roti ini. Selamat menunaikan ibadah ramadan dengan ikhlas. (Gusriyono)

banner 336x280