Engriyo Ungkap Strategi Digital agar Pariwisata Sumbar Mudah Ditemukan Wisatawan Dunia

Padang – Peraih AITTA Award 2026 kategori The Best Tourism Digital in West Sumatra, Engriyo, menilai pariwisata Sumatera Barat harus segera melakukan transformasi digital agar mampu bersaing dengan destinasi lain dan menjawab kebutuhan wisatawan masa kini, khususnya Generasi Z.

Menurut Engriyo, ada empat pilar utama yang harus menjadi prioritas, yakni Website, Database, Konten, dan Program Referral.

banner 336x280

“Pilar pertama adalah membangun website resmi Visit Sumbar sebagai rumah informasi pariwisata yang terintegrasi. Website ini bukan sekadar galeri foto, tetapi harus memuat informasi lengkap seperti jam operasional, harga tiket, kalender event, peta digital, hingga tombol pemesanan yang terhubung langsung dengan travel agent lokal anggota AITTA. Selama ini informasi masih tersebar di media sosial dan WhatsApp sehingga calon wisatawan kesulitan memperoleh informasi yang utuh,” ujar Digital Marketing Expert itu, di Padang, Senin (27/7/2026) .

Pilar kedua adalah membangun database wisatawan. Menurutnya, promosi digital tidak akan efektif tanpa data yang akurat mengenai karakteristik wisatawan.

“Kita harus mengetahui asal wisatawan, lama tinggal, hingga destinasi favorit mereka. Data tersebut bisa dikumpulkan melalui sistem pemesanan di website dan jaringan AITTA. Dengan begitu, promosi dapat lebih tepat sasaran, misalnya menawarkan paket kuliner bagi wisatawan Malaysia atau paket wisata baru bagi wisatawan dari Jakarta yang pernah berkunjung ke Sumbar,” jelasnya.

Pilar ketiga adalah memperkuat konten digital. Angriyo menilai pola promosi harus berubah mengikuti perilaku Generasi Z yang lebih menyukai pengalaman autentik dibanding sekadar foto pemandangan.

“Kita harus melahirkan ribuan kreator lokal yang mampu menceritakan pengalaman unik, seperti menjadi petani kopi di Solok selama sehari atau belajar memasak rendang di Bukittinggi. Konten yang jujur, inspiratif, dan mudah dibagikan akan lebih efektif menarik minat wisatawan,” katanya.

Sementara pilar keempat adalah membangun program referral yang melibatkan masyarakat dan pelaku industri sebagai duta promosi digital.

“Dengan sistem referral yang sederhana, setiap orang yang berhasil mengajak wisatawan datang ke Sumbar melalui tautan khusus dapat memperoleh komisi. Cara ini akan menciptakan promosi yang berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.

Sumbar Harus Mudah Ditemukan di Google

Selain membangun empat pilar digital tersebut, Engriyo menyoroti persoalan mendasar yang masih dihadapi pariwisata Sumbar, yakni rendahnya visibilitas di mesin pencari Google.

Sebagai praktisi digital marketing yang aktif mempromosikan paket wisata Sumatera Barat, ia menilai potensi daerah ini belum didukung oleh strategi optimasi digital yang memadai.

“Sumbar memiliki destinasi kelas dunia, mulai dari Lembah Harau, Geopark Silokek, budaya Minangkabau, hingga rendang yang telah mendunia. Namun ketika wisatawan dari Jakarta, Malaysia, atau Singapura mencari kata kunci seperti wisata halal terbaik atau destinasi alam di Sumatera, nama Sumbar masih kalah bersaing dengan Yogyakarta, Lombok, bahkan Danau Toba. Bukan karena destinasi kita kalah menarik, tetapi karena konten dan data digital kita belum optimal,” tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen keputusan perjalanan saat ini diawali melalui pencarian di ponsel. Jika informasi mengenai jam operasional, harga tiket, akses menuju lokasi, hingga kontak resmi destinasi tidak muncul di halaman pertama Google, maka peluang mendatangkan wisatawan akan semakin kecil.

Karena itu, Engriyo mengajak Dinas Pariwisata, AITTA, Pokdarwis, akademisi, media, dan seluruh pelaku industri pariwisata untuk berkolaborasi membangun ekosistem digital yang kuat.

“Kita harus memproduksi ribuan artikel, blog, video, dan konten yang menggunakan kata kunci sesuai dengan apa yang benar-benar dicari wisatawan. Promosi digital tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri. Jika seluruh pihak bergerak bersama, saya optimistis promosi pariwisata Sumbar pada 2026 tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat lokal,” pungkasnya. (***)

Komentar