Catatan Webinar Nasional, Wirausahawan Sukses Butuh Akselerasi yang Inovativ dan Kolaborativ


Kayutanam -- 

Hari ini, 31 Oktober adalah merupakan ulang tahun Ruang Pendidik INS Kayutanam yang ke 94, lembaga yang didirikan oleh Engku Mohammad Sjafei sekarang sangat berkembang dan menghasilkan alumni yang hebat hebat, seperti menteri Koperasi, MenteriKesehatan, Jenderal, Dubes Profesor, doktor, pengusaha, Seniman dsbnya, profil INS itu disampaikan secara langsung dalam webinar pagi tadi oleh bapak Dr. Indra Utama, salah seorang alumni INS yang sekarang sebagai Pensyarah Senior University Malaysia Serawak. 

 

INS yang menurut pak Indra adalah akronim Ingat Nasib Sendiri dan kemudian bertukar menjadi Indonesich-Nederlandsche School dan sekarang Institut Nasional Sjafei.

 

Bersempena dengan ultah INS kembali pak Prof Fasli Djalal duet bersama pak Burmalis Ilyas mengadakan Webinar dengan topic “ Akselerasi Wirausahawan dengan Kolaborasi dan Inovasi”, saya melihat tiada hari bagi pak Fasli tanpa Webinar, saya ingin setiap webinar beliau hadir, tapi masih banyak bolong bolongnya. 

 

Kali ini sebagai host adalah duet milineal Minang Vika dan Suci Hendrina

 

Hebatnya pak Fasli mewakafkan waktu beliau untuk ranah Minang di setiap Webinar ini sebagai moderator. Dengan piawainya pak Fasli membuat webinar dari awal sampai akhir selalu hidup dan tidak ada rasa bosan, kuncinya beliau sangat mengenal semua narasumber, dari profile, back  groud bisnis kiprahnya, hampir pada setiap pengantar di setiap sesi, pak Fasli seperti akrab sekali dengan narasumber dan materi yang dibawakan mereka. 

 

Sehingga acara beliau selalu ditunggu tunggu karena besar sekali manfaatnya.

 

 Saya membaca WA beliau untuk webinar hari ini, sebagai pensiunan bagi saya hari ini “Sanayan” sajo, jadi tadi pas saya lihat group FMM pak Feri Lasman menayangkan foto pak Fasli, saya lngsung kaget, cepat cepat saya buka Zoom dan ikut webinar, saya terlambat juga karena pas saya buka sudah disesi pak Gubernur Sumbar.

 

 

 

Yang menarik webinar kali ini seperti dialog, diskusi saja, tanpa ada makalah power point, bersifat spontan, nara sumber berkisah  mengalir seperti apa adanya.

 

Sebagai nara sumber pertama pak Fasli mempersilahkan Ibu Dr (Hc) Nurhyati Subarkat, founder owner dan CEO dari PT Paragon Technology and Innovation yang menghasilkan produk merek Wardah Kosmetik. 

 

Berbicara profil ibu Nurhayati nggak terlalu susah, cukup buka mak Google, sudah terbuka sosok ibu Nurhayati yang luar biasa ini. Tapi hari ini ada yang khusus beliau sampaikan di webinar disesuaikan dengan topik dan pemirsa.

 

Ibu Nurhayati sama saja dengan ibu ibu lainnya, beliau memulai bisnis dari nol, beliau bukan meneruskan bisnis orang tua beliau, setelah menamatkan kuliah beliau di Farmasi ITB beliau ingin sekali menjadi dosen, keinginan itu tidak tercapai dan akhirnya beliau mendidrikan bisnis kosmetik ini, Ibu yang dari kecil, sekolah kuliah ini sudah memakai baju kuruang memberikan tips beiliau,  bahwa dalam bisnis kata kuncinya ialah kolaborasi , inovasi,  lima karakter yang beliau sampaikan yaitu: Ketuhanan, Kepedulian, Kerendahan hati (humility), Tangguh (grit) dan Inovasi. 

 

 

 

Beliau dalam berbisnis juga jatuh bangun, pernah tempat usaha beliau terbakar habis, pernah kena terpaan 98 dsbnya, tapi beliau tidak menyerah dan meminta pertolongan kepada Allah dengan khusuk, alhamdulilalh Allah menunjukkan jalan dan kemudahan bagi beliau yang mungkin seperti mukjizat.

 Karena waktu yang terbatas sekali lagi belaiu berpesan bangun kolaborasi senior deagan Yunior untuk bisnis kita.

 

Setelah sedikit kementar dari pak Fasli, beliau mempersilahkan narsum selanjutnya H. Yasmar, H. Yasmar adalah pemilik Budiman Swalayan di Bukittinggi.

 

 

 

Tampil layaknya seorang sekh, dengan jenggot tebal dan panjang  serta memakai baju gamis, pak Yasmar berbagi cerita bagaimana beliau memulainya, pancingan pak Fasli sangat mengena supaya pak Yasmar berbagi pengalaman berbisnis di kampuang smpai beliau memiliki 14 swalayan di Bukittinggi.

 

H. Yasmar memulai bisnis dari kedai kontrakan yang kecil di pasa bawah, Bukittinggi, dengan ketekunan dan kegigihan beliau sekarang memiliki 14 swalayan Budiman. 

 

Salah satu unsur keperyaan yang pernah beliau trim adalah ketika beliau butuh mobil untuk berdagang mau bulan puasa, beliau menjual mobil seharga Rp, 35 Juta, tapi beliau bisa membeli barang sehrga 1 M.

 

Ketika pak Fasli menanyakan apa resepnya, dengan gamblang pak Yasmarmengatakan bahwa kunci berbisnis itu adalah trust, kepercayaan, dan pendelegasian. Berani mendelagasikan kepada orang lain, berani menghire tenaga professional dan memberikan kewenangan yang lebih, rubah pandangan yang salah yang istilah percaya kepada anak buto mato ciek, picayo ka urang lain buto duo mato. 

 

 

 

Di akhir sharingnya pak Yasmar menyampaiakan jangan mengkambinghitamkan modal, tidak selalu modal sebagai awal untuk berbisnis. Dengan banyak berinteraksi, bersilaturahim akan ada saja modal yang datang, percayalah, katanya menutup.

 

 

Narsum selanjutnya adalah Elsa Maharani, seperti pengantar Prof Fasli, Elsa sarjana kesehatan masyarakat adalah pengusaha Milineal dari ranah Minang, ketika orang memasukkan barang ke Sumbar, Elsa merubah semua itu, Elsa mengekspor barang dari Sumbar ke Hongkong, Dubai, semua provinsi dari Aceh smpai NTB.

 

 

 

Elsa berkisah, awalnya Elsa adalah importir baju dari China, lama lama dia mulai berfikir, kenapa nggak dia yang jadi eksportir, membuat produk sendiri, memberdayakan tenaga kerja di kampuang halaman, mulailah dia membuka usaha dengan nama Maharani Hijab. Elsa membuka kampung jahitan.

 

Dengan berserah diri kepada Allah, di setaip habis shalat Elsa berdoa unutk kemudahan dan kesuksesan usahanya, beliau bertekad bahawa usaha ini bisa menguntungkan orang lain dan sebagai amal jariah.

 

Ketika prof Fasli bertanya bagaimana cara memotivasi tenaga kerja di Sumbar?. Elsa menjawab bahwa dia membangun system, bukan gue gaji lu buat lu bekerja, tapi kiat bekerja dari hati ke hati, pendekatan soaial lebih penting, keuntungan dibagi dengan karyawan, waktu pandemi dikasi infus, niat awal mendirikan Maharani ini untuk membantu masyarakat, amal jariah kita yang bekerja, ibadah kita untuk akhirat.

 

 

 

Apa saran Elsa untuk sesame milenial Sumbar?

Saran Elsa, “Kemauan, modal utama itu bukan uang tapi kemauan, punya kemauan untuk berbagi dg orang lain, mulai saja dulu usaha itu, halangan itu adalah untuk naik kelas. Pengalaman pahit Elsa pernah waktu mengorder kain ada 5 rol kain yang cacat, kemudian berserah diri kepada Allah, bulan depan diganti Allah dengn rezeki yang tidak disangka sangka, banyak order yang masuk.

 

 

 

Jilbab ini pelakunya banyak, bagaimana bersaing dengan competitor, pertanyaan Prof Fasli selanjutnya?

 

Dunia fashion itu perubahannya cepat sekali, langkah awal, Sebelum mnegeluarkan produk, adakan riset pasar, nggak usah muluk muluk model dan bahannya, berdasarkan riset itu baru didapat  kebutuhan pasar, membuat sampling, uji kelayakan produk. 

Sebelum launching riset bisa menghabiskan waktu satu bulan

 

Bagi milineal kalau mau usaha, jangan takut ggal, laluilah kegagalan itu dengan baik, nanti akan ditemui hasilnya, penemu listrik Thomas Alf Edison 999 kali gagal, Elsa bisa 99 kali gagal, jangan patah semangat, tetap kut dan gigih serta berserah diri kepada Allah, mulai sajalah dulu, latar belakang ilmu tidak menetukan, kemauanlah yang lebih berperan.

 

 

 

Next sesi Pak Fasli sedikit bercerita tentang sejarah INS,  bagaimana M. Sjafei mendirikan lembaga pendidikan ini, untuk lebih mantapnya, beliau mempersilahkan bapak Dr.  Dr. Indra Utama bercerita tentang 94 tahun INS.

 

Pak Indra: “Kembali ke INS, bagaimana INS punya model pendidikan yang teruji dari zaman Belanda, sejak tahun 1926., beliau menyampaikan bagimana pendidikan di INS melahirkan manusia manusia yang tangguh, semua anak punya talenta dan siap untuk berkarya sendiri. Beliau juga membacakan alumni INS yang hebat hebat, seperti beberapa yang jadi menteri, dubes, seniman, akademisi dll.

 

 

 

Selanjutnya pak Fasli meminta nasehat dari tokoh Minang, uda Basril Jabar, apa saran beliau untuk milineal Minang. 

 

Uda Basril Jabar bagi saya adalah tokoh Minang yang tidak pernah lelah memikirkan Minangkabau, pak Basril memulai dari cerita tentang INS yang telah melahirkan anak didik INS, beliau tak pernah meragukan SDM urang Minang, 

 

Di usia 77 tahun, pak Basril menawarkan potensi ekonomi ranah minang, agro industry,  industri kreatif , dulu pernah konglomerat Minang membuat perusahaan korporat, ada yang gagal, kegagalan ini sering disebut sebut, dianggap orang minang tidak bisa bekerja sama pada hal banyak sekali orang Minang yang sukses.

 

 

 

Lebih lanjut beliau mengulas bagaimana mensinkronkn kehebatan orang Minang membangun minang, ini perlu digarap oleh putra Minang sendriri dengan mengikutsertakan orang minang, tahun 1986 pak Bas pernah membuat koperasi, modal awal 30 Juta sekarang sudah pnuya modal 30 M. kita bisa bersatu, pameo orang Minang tidak bersatu harus diruntuhkan.

 

2 tahun yang lalu beliau dengan teman teman termasuk prof Fashbir mendirikan koperasi Saudagar Minang Raya, sekarang anggoatnya sudah 500 orang, salah satu usahanya adalah rumah potong ayam di jalan by-pass dengan aset 8 M.

 

Yang ingin dituju orang Minang bisa bersatu, dengan persatuan dan kesamaan ini potensi Minang kita garab dengan Koperasi Saudagar Minang Raya. 

 

Yang penting sense of blonging,  kita pakai pameo rumah makan Minang, tidak ada anak buah, semua sama, dan SMR sudah berhasil membangun potensi ranah Minang.

 

Pak Fasli kagum sekali dengan kesehatan dan perhatian uda Bas, apalagi beliau mengenal sudah lama sekali, uda Bas pemilik harian Singgalang dan pernah menjadi ketua Kadinda Sumbar.

 

 

 

Selanjunya prof mempersilahkan Dr. Firman Hidayat, Dekan kehutan Univ Muhammadiyah Padang

 

Pak Firman Hidayat sudah 8 bulan berkolaborasi institusi yang dimpinnya dengan Dinas Kehutanan dan INS, bagaimana memanfaatkan lahan milik INS seluas 18 HA bisa bermanfaat bagi pendidikan, penelitian, tourism, menjadi kawasan hutan pendidikan sekali gus memberi pengetahuan kepada anak didik. 

 

 

 

Tidak terasa acara yang dimulai pukul 09:00 sudah mendekati shalat Zuhur, webinar sudah harus selesai, prof Fasli memepersilahkan penyampaian komitmen dari MDG-N dan narsum lainnya.

 

Komitmen disampaikan oleh pak Burmalis, direktur Minang Diaspora Network: 

Pertama ucapan Selamat Utah INS yang ke 94 yang telah melahirkan alumni yang hebat, INS tak lakang dipaneh tak lapuak di hujan. 

 

 

 

Terselanggaranya acara ini juga Kolaborasi Webinar  Wardah, INS, MDN,  UNP, Unand, terima kasih kepada semua yang ikut berkolaborasi dan berkontribusi.

 

Pak Burma menyampaikan bahwa iIni merupkan program kelanjutan dari tokoh minang yang peduli dengan ranah, salah satunya Ibu Nurhayati, beliau contoh ibu Nur yang hebat, bisnis beliau diteruskan oleh putra beliau dengan 12,000 karyawan.

 

MDN konsern kepada Promoting, Networking, kunsuming, bagaimana diaspora minang menggunakan konsumsi produk Minang.

 

 

 

Webinar ini tidak hari ini saja, tapi terus kita lanjutkan, komitmen MDN adalah ikut membantu dengan jaringan Disapora Minang yang menyebar di seluruh dunia.

 

Komitmen Ivan Ahda,  kedepan kita buat pelatihan lanjutan, kita coba menyebarkan form survey untuk mendapatkan masukan pemetaan  latihan kewirausaawan yang cocok, untuk memetakan bisnis di setipa derah.

 

Selanjunya pak Fasli mempersilahkan prof Helmi, akademisi Unand, pemlik Vila Kayu Putih, membangun mengembangkan usaha itu berada dab satu kompleksitas, ada kretifitas, selalu beradaptasi dangan perubahan

 

Perlu kolaborasi salah satu elemen yang sangat esensial

 

Di Minang, punya resourses, ada pak Burmalis di MDG-N, bisa membantu dengan networking rang minang.

 

 

 

 

Bisnis start up, ada limit yang perlu dinaikkan lagi kurvanya, naikkan grafik lagi, kolaborsi perlu untuk pembiayaan, yang penting ide dulu, modal, untuk inovasi dan ekspansi, di minang banyak, bagi yang punya talenta menunjang prestasi perlu ditopang, mulai dari start up, terus akselerasi.

 

Sebagai penutup pak Fasli memotivasi kaum milenial untu berbuat dimana saja, bisa juga di minangkabau, banyak potensi Minnag yang bisa digali dan dikembangkan, coba kita balik orang minang yang mengirimkan uang ke rantau. 

 

Berbuat dengan tulus, bekerjasama dengan pihak luar dalam sediri, berdoa dengan khusuk, menjadi amal jariah dihdapan Alla SWT, jaga kesehatan selalu pakai msker jaga jarak, cuci tangan sesudah memegang apapun, bertambah sukses dalam karir dan kehidupan. Webinar yang diikuti 300 partisipan ini ditutup pas adzan zuhur berkumandang. 

 

Jakarta, 31 Oktober 2020. (Elthaf)


Bagikan



Berita lainnya

Dihadiri Dua Mantan Bupati, Hari Jadi Pesisir Selatan Diperingati Secara Sederhana Dalam Rapat Parip

Painan,- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, (DPRD)  Pesisir Selatan, menggelar rapat paripurna istimewa dalam rangka Peringatan Hari Jadi Kabupaten ...


Semarak Hari Bakti Rimbawan di Sumbar, Dishut Giatkan Penanaman di Puncak Gunung Singgalang dan Pan

Padang -- Semarakan peringatan Hari bakti Rimbawan Tahun 2021, di Provinsi Sumatera Barat, Dinas Kehutanan Sumbar selain melaksanakan penanaman ...


Tim Pickleball Sumbar Cetak Prestasi dan Ukir Sejarah Mengejutkan di Kejurnas 2021

Padang -- Revolusi ala Tarmizi Mawardi, pengembang cabang olahraga Pickleball Sumatera Barat tadinya tidak diperhitungkan mampu membuat kejutan. ...